HAKIKAT HIDUP MANUSIA

Apa sih sebenarnya hakikat hidup manusia sebagai ciptaan Allah? Dalam judul penciptaan telah saya tulis bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk kebesaran kerajaan Allah, sekarang saya akan tulis pemikiran saya tentang hakikat hidup  manusia.

Seorang bayi yg baru lahir dapat di ibaratkan seperti selembar kertas kosong. Seiring pertumbuhannya dia di harapkan untuk selalu taat pada kehendak/perintah Allah. Di ibaratkan murid sekolah yang di berikan selembar kertas kosong dan dengan suatu tugas untuk menggambar satu obyek tertentu di kertas itu. Pak guru bilang : "Gambarlah aku!", maka kertas itu nantinya hanya akan di terima pada saat di kumpulkan dan di nilai jika yang tergambar adalah gambar pak guru. Jika yg tergambar adalah sebuah obyek lain maka tentu saja itu tdk sesuai dengan assignment yang di berikan dan akan di tolak. 
Pak guru akan bilang : “Aku menugaskan kamu untuk menggambar aku, tapi kenapa kamu malah menggambar monyet? Siapa yang menyuruhmu berbuat demikian? Karena kamu sudah sengaja berbuat demikian, maka gambarmu tidak bisa saya terima  dan akan saya buang dan kamu tidak akan memperoleh nilai”. 

Begitu juga dengan manusia, manusia sudah di berikan assignment yang jelas untuk hidup kudus dan menjauhi dosa, karena manusia di ciptakan segambar dengan Tuhan Allah dan kehendak Allah  dari semula adalah manusia menjadi "seperti Allah (in His likeness)." Pada saatnya nanti kita harus menghadap Allah dengan spesifikasi jiwa yang sesuai dengan kehendakNya, yaitu kudus. Jadi jelas bahwa tugas kita selama hidup di dunia adalah menggambar jiwa kita agar "segambar" dengan Allah, sebab itulah satu2nya cara agar kita dapat bersatu dengan Allah nantinya. Kita seperti kertas kosong ketika baru lahir, dan di beri kesempatan untuk memperoleh pembimbing dalam mengerjakan tugas itu, yaitu Kristus dalam roh kudus yang akan hidup dalam diri kita jika kita percaya kepadaNya. Sehingga nantinya kita dapat bersatu dengan Allah yang kudus sebagai anggota dari "tubuh" Allah.

Itulah kenapa kita harus saling mengasihi sesama, karena dengan begitu sebenarnya yang kita lakukan adalah membantu sesama dalam mengerjakan “tugas menggambar” itu, di samping membentuk jiwa kita sendiri. Semakin banyak yang berhasil "menggambar dengan benar", maka semakin mulia dan semakin besarlah kerajaan Allah nantinya. Apa yang kita lakukan terhadap sesama sebenarnya adalah kita lakukan kepada Allah. Jika kita mengasihi sesama maka kita sama saja mengasihi Allah, begitu juga sebaliknya jika kita bernuat jahat kepada sesama, maka kita berbuat jahat kepada Allah. 

Benar, bahwa Allah dan kerajaanNya sudah mulia dan besar tanpa kontribusi manusia, tapi apakah itu berarti bahwa Allah dan kerajaanNya bersifat statis? Saya sangat yakin tidak, Allah dan kerajaan Allah bisa tumbuh lebih besar lagi dengan kontribusi manusia ciptaanNya, dan itulah tujuan Allah menciptakan manusia. Ingat perumpamaan biji sesawi? Ada satu pemahaman yang harus di mengerti terlebih dahulu sebelum anda bisa mengerti pemikiran saya ini, yaitu tentang Traducianism (dari Tertulian), yaitu paham yg mengatakan bahwa roh manusia di transmisikan dari orang tua kita, dan bukan di berikan Allah langsung setiap janin terbentuk dalam rahim ibu. Mungkin banyak orang kristen yang sudah terlanjur di ajarkan tentang Creationistm dalam doktrin ajaran gerejanya, dan saya yakin bahwa itu adalah paham yang menyesatkan kita dalam lebih mengerti kehendak Allah, khususnya tentang penciptaan manusia, walaupun tidak berpengaruh pada keselamatan seorang kristen. 

Banyak orang kristen yg memberikan jawaban yang menggelikan ketika di tanya : “Apa tujuan (goal) Allah dalam menciptakan manusia. Ada yang menjawab : Agar manusia memuja-muja Allah, agar Allah memiliki obyek untuk di kasihi, atau agar manusia menguasai/berkuasa dibumi. Terus terang semua jawaban itu menurut saya sama sekali tidak masuk akal dan lucu dan terdengar hanya di dasari oleh ketidak tahuan dan di paksakan.

Sebenarnya jawabannya tersirat dalam Alkitab walaupun tidak secara jelas tersurat. Tersembunyi dalam perumpamaan-perumpamaan semua itu di ungkapkan, agar mereka yang mencari bisa mendapatkannya. Jawaban yang saya peroleh adalah bahwa hakekat hidup manusia adalah agar berbuah, dan harus manis buahnya. Jiwa adalah buah, Allah hanya akan berkenan kepada “buah yang manis” saja, yang masam akan di buang. Buah yang manis adalah jiwa yang kudus, jiwa yang segambar dengan Allah. Ini bukannya Allah pilih-pilih, tapi memang hanya yang matching/compatible dengan Allah saja yang bisa bersatu denganNya.  Air tidak mungkin bersatu dengan minyak. Kehendak bebas kitalah yang akan memutuskan kemana/seperti apa jiwa kita akan terbentuk. Allah menghendaki "buah yg manis", bukan buah asam yg di beri pemanis!


Yohanes 17:22“Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:”

GBU